Senin, 20 Desember 2010

cinta yang hilang for aldyan

tersenyumlah saat kau mengingatku
karena saat itu aku sangat merindukanmu
dan menangislah saat kau merindukanku
karena saat itu aku tak berada disampingmu
tetapi pejamkanlah mata indahmu itu
karena saat itu aku akan terasa ada didekatmu
karena aku telah berada dihatimu untuk selamanya


tak ada yang tersisa lagi untukku
selain kenangan – kenangan yang indah bersamamu
mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
mata indah yang dahulu adalah milikku
kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
hati cinta dan rinduku adalah milikmu


cintamu takkan pernah membebaskanku
bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
saat sayap – sayapku telah patah karenamu
cintamu akan tetap tinggal bersamaku
hingga akhir hayatku dan setelah kematian
hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi


betapapun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan
yang tengah menghidupkanku sinar redupku
namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya
aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu
karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
kau takkan pernah terganti
bagai pecahan logam mengekalkan
kesunyian kesendirian dan kesedihanku
kini aku telah kehilanganmu

hilang semua janji semua mimpi -  mimpi indah
hancur hati ini melihat semua ini
lenyap telah lenyap kebahagiaan dihati
ku hanya bisa menangisi semua ini
hancur hati ini melihat kau telah pergi


langit menjadi gelap berkelabu
menyelimuti hatiku
mengubah seluruh hidupku
mengapa semua jadi begini perpisahan yang terjadi
diantara kita berdua
ku akan menanti sebuah keajaiban
yang membuat kita bisa bersama kembali

Rabu, 15 Desember 2010

body aligment

Postur tubuh/body aligment merupakan susunan geometris dari bagian-bagian tubuh yang berhubungan dengan bagian tubuh lain. Bagian yang dipelajari dari postur tubuh adalah persendian, tendon, ligamen, dan otot. Apabila keempat bagian tersebut digunakan dengan benar dan terjadi keseimbangan, maka dapat menjadikan fungsi tubuh maksimal, seperti dalam posisi duduk, berdiri dan berbaring yang benar.
Body alignment yang buruk dapat mengurangi penampilan individu dan mempengaruhi kesehatan yang dapat mengarah pada gangguan. Perawat merupakan role model yang penting dalam mengajarkan kebiasaan yang sehat/baik.
Postur tubuh yang baik dapat meningkatkan fungsi tangan dengan baik, mengurangi jumlah energi yang digunakan, mempertahankan keseimbangan, mengurangi kecelakaan, memperluas ekspansi paru, dan memingkatkan sirkulasi renal dan gastrointestinal.
Postur tubuh seseorang adalah salah satu hal yang harus dikaji untuk melihat status kesehatan, fisikal fitness, daya tarik seseorang, postur tubuh juga dapat menunjukkan perasaan hati, harga diri, kepribadian.

A.    Prinsip-prinsip body aligment

Postur tubuh yang baik dapat meningkatkan fungsi tangan dengan baik, mengurangi jumlah energi yang digunakan, mempertahankan keseimbangan, mengurangi kecelakaan, memperluas ekspansi paru, dan memingkatkan sirkulasi renal dan gastrointestinal. Untuk mendapatkan postur tubuh yang benar, terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, di antaranya:
1.      Keseimbangan dapat dipertahankan jika garis gravitasi (line of gravity -garis imaginer vertikal) mclewati pusat gravitasi (center of gravity-titik yang berada di pertengahan garis tubuh) dan dasar tumpuan (base of support-posisi menyangga atau menopang tubuh).
2.      Jika dasar tumpuan lebih luas dan pusat gravitasi lebih rendah, kestabilan dan keseimbangan akan lebih besar.
3.      Jika gravitasi berada di luar pusat dasar tumpuan, energi akan lebih banyak digunakan untuk mempertahankan keseimbangan.
4.      Dasar tumpuan yang luas dan bagian-bagian dari postur tubuh yang baik akan menghemat energi dan mencegah kelelahan otot.
5.      Perubahan dalam posisi tubuh membantu mcncegah ketidaknyamanan otot.
6.      Memperkuat otot yang lemah dapat membantu mencegah kekakuan otot dan ligamen.
7.      Posisi dan aktivitas yang bervariasi dapat membantu mempertahankan otot dan mencegah kelelahan.
8.      Pergantian antara masa aktivitas dan istirahat dapat mencegah kelelahan.
9.      Membagi keseimbangan antara aktivitas pada lengan dan kaki untuk mencegah beban belakang.
10.  Postur yang buruk dalam waktu yang lama dapat menimbulkan rasa nyeri, kelelahan otot, dan kontraktur.



B.     FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI POSTUR TUBUH
Faktor-faktor yang mempengaruhi Body Alignment adalah :
1.      Gravity
Gravity adalah atraksi timbal balik antara tubuh dan bumi. Pusat gravity adalah titik pusat seluruh massa dari suatu objek. Memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh.  Garis gravitasi, merupakan garis imaginer vertical melalui pusat gravitasi. Dasar tumpuan, merupakan dasar tempat seseorang dalam posisi istirahat untuk menopang atau menahan tubuh.

2.      Pontural reflek dan Apposing Muscles Group.
Action dari otot postural yang terus menerus menyokong seseorang pada posisi tegak melawan gravity.
a.        Otot ekstensor: otot-otot anti gravity.
b.      Kontraksi otot-otot menyokong posisi tegak disebut postural tonus.
c.       Numorous postural/Righting reflek merangsang dan mempertahankan postural tonus adalah:
1)      Labyrithing sense
2)      Tonicneel-righting reflex.
3)      Actual oroptic reflex
4)      Propoceptor or kinesthetic sense.
5)      Extensor or anti gravity (stretum) reflex
6)      Plantar reflex.
3.      Perubahan postur
4.      Struktur anatomy individu yang berbeda.


Pembentukan postur tubuh dapat dipengaruhi juga oleh beberapa faktor, di antaranya:
1.      Status Kesehatan. Perubahan status keschatan dapat mc;nimbulkan keadaan yang tiidak optimal terdapat organ atau bagian tubuh yang mengalami kelelahan atau kelemahan sehingga dapat memengaruhi pembentukan postur tubuh.
2.      Nutrisi. Nutrisi merupakan bahan untuk menghasilkan yang digunakan dalam membantu proses pengaturan keseimbangan organ, otot, tendon, ligamen dan persendian. Apabila status nutrisi kurang, kebutuhan energi pada organ tersebut akan kurang sehingga dapat proses keseimbangan.
3.      Emosi. Emosi dapat menyebabkan kurangnya kendali dalam menjaga kescimbangan tubuh. Ilal tersebut dapat mcmcngaruhi proses koordinasi pada otot, ligamen, sendi dan tulang.
4.      Gaya Hidup. Perilaku gaya hidup dapat membuat seseorang jadi lebih baik atau bahkan sebaliknya menjadi buruk. Seseorang yang memiliki gaya hidup yang tidak sehat misalnya selalu menggunakan alat bantu dalam melakukan kcgiatan sehari-hari, dapat mengalami ketergantungan sehingga postur tubuh tidak berkcmbang dengan baik.
5.      Perilaku dan Nilai. Adanya perubahan perilaku dan nilai seseorang dapat memengaruhi pembentukan postur tubuh. Sebagai contoh, perilaku dalam membuang sampah di sembarang tempati dapat memengaruhi proses pembcntukan postur tubuh orang lain yang berupaya untuk selalu bersih dari sampah.

C.     Struktur abnormal yang mempengaruhi mekanik tubuh dan ambulasi:
Beberapa gangguan pada muskuloskeletal dapat merangsang pergerakan:
a.       Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang.
b.      Compression fraktur pada vertebra
Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).
c.       Osteoartritis
Osteoartritis (OA, dikenal juga sebagai artritis degeneratif, penyakit degeneratif sendi), adalah kondisi di mana sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi.
Pada sendi, suatu jaringan tulang rawan yang biasa disebut dengan nama kartilago biasanya menutup ujung-ujung tulang penyusun sendi. Suatu lapisan cairan yang disebut cairan sinovial terletak di antara tulang-tulang tersebut dan bertindak sebagai bahan pelumas yang mencegah ujung-ujung tulang tersebut bergesekan dan saling mengikis satu sama lain.
Pada kondisi kekurangan cairan sinovial lapisan kartilago yang menutup ujung tulang akan bergesekan satu sama lain. Gesekan tersebut akan membuat lapisan tersebut semakin tipis dan pada akhirnya akan menimbulkan rasa nyeri.
d.      Osteomyelitis
e.       Ankylosing spondilitis
Merupakan penyakit jaringan ikat yang ditandai dengan peradangan pada tulang belakang dan sendi-sendi yang besar, menyebabkan kekakuan dan nyeri. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi penyakit ini cenderung menyerang anggota keluarga, menunjukkan adanya peran dari genetik.
f.       Rhematoid artritis
Merupakan penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang. RA dapat mengakibatkan nyeri, kemerahan, bengkok dan panas di sekitar sendi. Berdasarkan studi, RA lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria dengan rasio kejadian 3 : 1.
Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada penderita stadium lanjut akan membuat si penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya menurun. Gejala yang lain yaitu berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah dan kurang darah. Namun kadang kala si penderita tidak merasakan gejalanya. Diperkirakan kasus Rheumatoid Arthritis diderita pada usia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1% sampai dengan 0,3% dari jumlah penduduk Indonesia.
g.      Tumor ganas pada tulang
h.      Skoliosis
Skoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya merupakan efek samping yang diakibatkan karena menderita kelainan tertentu, seperti distrofi otot, sindrom Marfan, sindrom Down, dan penyakit lainnya.  Berbagai kelainan tersebut menyebabkan otot atau saraf di sekitar tulang belakang tidak berfungsi sempurna dan menyebabkan bentuk tulang belakang menjadi melengkung.
Ahli bedah tulang (ortopedi) mengklasifikasikan idiofatik skoliosis ke dalam empat kategori berdasarkan usia penderita ketika kelengkungan tulang terlihat untuk pertama kalinya. Keempat kategori tersebut adalah skoliosis idiofatik anak-anak, remaja, pada remaja yang berada di sekitar masa pubertas, dan dewasa.
i.        Atropi otot
Atrofi (bahasa Inggris: atrophy) merupakan simtoma penyusutan jaringan atau organ. Atrofi berkemungkinan berlaku akibat tindak balas adaptasi terhadap tekanan sehingga isi padu sel mengerut dan seterusnya keperluan tenaga diturunkan ke tahap yang minimum. penyebab lain yang mungkin ialah sel kurang digunakan seperti dalam otot rangka. selain penurunan keperluan sesuatu fungsi, kekurangan bekalan oksigen atau nutrisin, inflamasi kronik dan proses penuaan juga menyumbang kepada fenomena atropi. Begitu juga dengan gangguan isyarat dalam tindakan hormon berakibat fungsi sesuatu organ berkurangan.
j.        Ketegangan dan keseleo.

hubungan tingkat kecemasan dengan perilaku merokok pada remaja

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perilaku merokok akhir-akhir semakin memprihatinkan. Saat ini perilaku merokok merupakan suatu gejala yang dapat kita lihat setiap hari di segala tempat seperti di jalanan, tempat keramaian, bus kota, Rumah Sakit, sekolah dan lain sebagianya. Semua  orang mengetahui akan bahaya yang dapat ditimbulkan dari merokok, tetapi perilaku merokok tidak pernah surut dn tampaknya merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat.  Hal yang memprihatinkan adalah usia mulai meroko yang setiap tahun semakin muda. Bila dahulu orang mulai berani merokok biasanya ketika usia SMP maka sekarang dapat dijumpai anak-anak SD kelas 5 yang sudah mulai berani merokok secara diam-diam (1).
Menurut hasil survey nasional yang dilakukan pada tahun 2001, disebutkan bahwa perokok aktif di Indonesia sekitar 141,44 juta orang dan 20% dari total perokok aktif di Indonesia adalah remaja dengan rentan usia 15 – 18 tahun (2,3). Peningkatan drastis konsumsi tembakau para remaja terjadi pada tahun 1995 yakni 13,7 % dan pada tahun 2001 menjadi 22,4%. Prosentasi peningkatan ini terjadi pada remaja laki-laki usia 15-19 tahun yang merupakan perokok (smoking regulari) (4). Penelitian yang dilakukan pada tahun 2003 terhadap siswa sekolah menengah kejuruan di kota Malang diperoleh hasil bahwa 59,17% dari 120 orang siswa yang menjadi responden diketahui merokok dan 67,60% dari jumlah perokok tersebut diketahui mulai merokok sejak duduk ditingkat SLTP (5). Penelitian lain yang dilakukan oleh Global Youth Tobaco Survey tahun 2000 menunjukan dari 2074 responden pelajar usia 15-20 tahun didapat bahwa 43,9% mengaku pernah merokok, 11,85 siswa menganggap rokok akan menambah teman, dan 9,2% siswa menganggap rokok akan membuat mereka terlihat lebih atraktif (6).
Perilaku perokok yang terjadi pada seseorang dapat dibedakan menjadi perokok ringan, perokok sedang, perokok berat dan perokok sangat berat. Perokok ringan menghabiskan sekitar 10 batang rokok setiap hari. Perokok sedang menghabiskan rokok 11-20 batang setiap hari. Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang perhari sedangkan perokok sangat berat mengkonsumsi lebih dari 30 batang perhari (1). Penelitian terhadap siswa SMK di kota Malang yang merokok, menunjukan 67,87% responden mengaku mampu manghabiskan 1-3 batang perhari, 25,35% responden mampu manghabiskan 4-6 batang perhari, 4,23% responden mampu menghabiskan 7-10 batang perhari, serta 2,55% responden sisanya mampu menghabiskan diatas 10 batang perhari (5).
Perilaku yang di lakukan di kota wonogiri mengemukaan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pelajar putra SMK  yaitu sikap, perilaku merokok teman, dan perilaku merokok saudara (7).Remaja mengalami kecemasan karena ia tidak bisa dengan baik melalui proses transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa yaitu transisi emosi, moralitas, pendidikan seksualitas, dan transisi dalam berhubungan dengan keluarga (8).
Kecemasan dalam remaja akan mendorong seseorang untuk mulai merokok karena mereka menganggap bahwa merokk dapat mengendorkan urat syaraf, relaksasi, mengurangi ketegangan, memudahkan berkonsentrasi dn dapat membantu dalam menghadapi permasalahan sosial (9, 10). Hasil observasi yang dilakukan terhadap siswa SMK di Wiworotomo Purwokerto mengumakakan bahwa setiap jam istirahat dan jam pulang sekolah banyak siswa putra yang merokok di warung samping sekolah dan di halte bus, mereka mengatakan bahwa dengan merokok dapat mengurangi beban pikiran tentang tugas di sekolah dan dapat merasa rileks.
Peran serta dari tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan sangat di perlukan untuk mambantu remaja dalam mengatasi perilaku merokok yang dipengaruhi oleh kecemasan atau ansietas. Intervensi yang perlu dilakukan perawat adalah menentukan program yang cocok untuk klien sesuai dengan tingkat kecemasan remaja seperti mengajarkan remaja dengan cara mendiskusikan koping yang bisa digunakan. Tujuannya supaya remaja dapat mengubah penggunaan koping dari destruktif menjadi koping yang konstruktif dan mendapatkan dukungan sosial dalam memecahkan masalah. Kemudian membantu meningkatkan kesadaran diri remaja dengan cara mengidentifikasi hal-hal positif yang di miliki remaja dan dapat dikembangkan secara positif serta mengurangi hal-hal negatif dalam diri remaja (11).

B.     Perumusan Masalah
Perilaku merokok pada remaja merupakan hal mudah dan sering ditemui terutama pada laki-laki. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ini, salah satunya adalah perasaan negatif karena rokok di anggap sebagai penyelamat. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan perilaku merokok pada pelajar putra SMK Wiworotomo Purwokerto.

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan perilaku merokok pada pelajar putra SMK Wiworotomo di Purwokerto.
2.      Tujuan khusus
a.       Mengetahui tingkat kecemasan pada pelajar putra SMK Wiworotomo Purwokerto
b.      Mengetahui perilaku merokok pada pelajar putra SMk Wiworotom Purwokerto
c.       Mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan perilaku merokok pada pelajar putra SMK Wiworotomo Purwokerto

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi peneliti
Sebagai proses pembelajaran bagi peneliti dalam penulisan riset keperawatan serta menambah pengetahuan tentang hubungan kecemasan dan perilaku merokok pada remaja putra sekolah menengah kejuruan.
2.      Bagi profesi keperawatan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada perawat sekolah dalam mengembangkan intervensi keperawatan yang bertujuan mengurangi tingkat kecemasan akibat stres dan perilaku merokok pada remaja putra SMK.
3.      Bagi guru BP
Memberikan masukan dan acuan bagi guru BP dalam membuat program bimbingan seperti konseling yang berfokus pada keadaan psikologis atau kecemasan pada siswa yang merokok supaya siswa tidak terjerumus lebih jauh.
4.      Bagi peneliti selanjutnya
Memberikan dasar dan acuan penelitian berikutnya terutama tentang kondisi kejiwaan remaja dan bahaya rokok.


5.      Bagi sekolah
Memberikan masukan pada sekolah untuk memasukan tema tentang penanganan kecemasan dan dampak dari perilaku merokok remaja pada kurikulum sekolah.






























TINJAUAN PUSTAKA

A.    Teori dan Konsep Terkait
1.      Kecemasan
a.      Pengertian
Cemas atau ansietas merupakan suatu perasaan khawatir yang samar-samar, sumbernya sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu tersebut. Keadaan emosi ini merupakan pengalaman yang subjektif (12).
Kecemasan merupakan suatu manifestasi seseorang akibat adanya konflik dalam batinnya. Munculnya kecemasan ada yang disadari oleh orang yang mengalami kecemasan. Misalnya perubahan suasana hati secara perlahan.sakit kepala yang berkepanjangan akibat tegangya urat saraf, sakit perut, munculnya ketidaksadaran dalam menyelesaikan tugas dan kehilangan konsentrasi dalam menyelesaikan suatu masalah (13,14). Gejala ini jika disadarisedikit demi sedikit dapat diselesaikan. Namun jika di biarkan akan mengakibatkan keadaan yang lebih buruk seperti susah tidur (insomnia), kulit wajah berminyak, rambut rontok dan dapat berlanjut menjadi depresi yang kronik (13).
b.      Rentang Respon Kecemasan
Rentang respon kecemasan dapat dikonseptualisasikan dalam rentang respon koping yang digambarkan pada model keperawatan dan fenomena sehat sakit. Respon kecemasan dapat digambarkan dalam rentang respon adaptif sampai maladaptif. Reaksi terhadap kecemasan dapat bersifat konstruktif dan destruktif. Konstruktif : motivasi individu untuk belajar, menjaga perubahan terutama perubahan terhadap perasaan tidak nyaman. Dekstuktif : menimbulkan tingkah laku maladaptif, disfungsi yang mengangkut kecemasan berat dan panik (15).
c.       Tingkat Kecemasan
Kecemasan dapat dibagi menjadi empat tingkat yaitu (12):
1)      Kecemasan ringan
Kecemasan yang berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari yang menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan keahlian persepsinya. Kecemasan dapat memitivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan.
2)      Kecemasan sedang
Kecemasan yang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Orang tersebut mengalami perhatian selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
3)      Kecemasan terarah
Kecemasan ini sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.
4)      Panik
Kecemasan yang berhubungan dengan terpengaruh, ketakutan dan teror. Kehilangan kendali dapat menyebabkan orang tersebut mengalami panik sehingga tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Seseorang dengan panik, terjadi peningkatan aktivitas motorik, penurunan kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan dan kematian.
d.      Teori Predisposisi dan Presipitasi Kecemasan
1)      Teori predisposisi
Beberapa teori yang mengemukakan faktor prndukung (prediposisi) terjadinya kecemasan antara lain (13):
a)      Teori psikoanalitik
Menurut pandangan psikoanalitik, kecemasan terjadi karena adanya konflik yang terjadi antara emosional elemen kepribadian yaitu id, ego, dan super ego. Id mewakili insting, superego mewakili hati nurani sedangkan ego mewakili konflik yang terjadi antara kedua elemen yang bertentangan.
b)      Teori interpersonal
Menurut pandangan interpersonal kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.
c)      Teori behavior
Berdasarkan teori behavior (perilaku),kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang menggangu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
d)     Teori perspektif keluarga
Kajian keluarga menunjukan pola interaksi yang terjadidi dalam keluarga. Kecemasan menunjukan adanya interaksi yang tidak adaptif dalam sistem keluarga.
e)      Teori perspektif biologi
Kesehatan umum seseorang menurut pandangan biologis merupakan faktor predisposisi timbulnya kecemasan.
2)      Teori presipitasi
Beberapa faktor pencetus (presipitasi) yang dapat menyebabkan terjadinya kecemasan antara lain (12) :
a)      Ancaman terhadap integritas biologi seperti : penyakit, trauma fisik, pembedahan yang akan dilakukan.
b)      Ancaman terhadap konsep diri seperti : proses kehilangan, perubahan peran, perubahan lingkungan atau status sosial ekonomi.

e.       Stressor pencetus
Stressor pencetus dapat berasal dari sumber internal atau eksternal yang ditafsirkan lain karena adanya distorsi persepsi dari realitas lingkungannya. Kecemasan dapat muncul bila individu tidak mampu mengatasi stres psikologi. Keadaan stres dapat bersumber dari frustasi, konflik, tekanan atau krisis. Frustasi dapat timbul apabila individu sedang beresiko mencari kebutuhan atau tujuan tetapitetapi mendadak timbul halangan atau aral melintang yang menimbulkan stres. Konflik terjadi apabila individu tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam kebutuhan atau tujuan. Tekanan dapat timbul karena akumulasi dari masalah sehari-hari. Krisis dapat terjadi apabila indivdu mengalami suatu permasalahan yang tidak terselesaikan dan pengalaman yang meningkatkan kecemasan dan ketidakmampuan fungsi seperti kematian, kecelakaan dan masuk sekolah pertama kali (16).

f.       Stres dan Adaptasi
Setiap orang pastinya pernah mengalami stres. Stres merupakan suatu keadaan yang dihasilkan oleh perubahan lingkungan yang diterima sebagai suatu hal yang menantang dan mengancam keseimbangan seseorang. Perubahan atau stimulus yang membangkitkan keadaan tersebut yaitu stresor. Sifat stresor yang mempengaruhi remaja dapat berbeda-beda. Suatu kejadian atau perubahan yang mengakibatkan stres pada seorang remaja bisa saja tidak berpengaruh pada orang lain. Selain itu, suatu kejadian yang dapat menyebabkan stres pada suatu kesempatan dan tempat, bisa saja tidak mempengaruhi orang yang sama pada kesempatan dan tempat yang lain. Seseorang akan menilai dan mengatasi suatu stres dengan cara mengubah situasi yang ada tujuannya adalah untuk beradaptasi atau penyesuaian terhadap perubahan sehingga remaja merasa berada kembali pada keadaan semula (12).
g.      Kecemasan Remaja
Masa remaja ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan fisik dan perkembangan kejiwaan. Permasalahan yang dihadapi remaja dapat disebabkan oleh kondisi remaja sedang mencari nilai-nilai baru dalam hidupnya dan kemungkinan bertolak belakang dengan norma-norma yang berlaku dalam keluarga maupun masyarakat. Hal inilah yang dapat menyebabkan remaja berada pada kondisi yang labil dan emosional (24).
Remaja yang mulai berada pada proses perkembangan tersebut mempunyai kebutuhan-kebutuhan rasa aman, rasa sayang dan kebutuhan rasa harga diri. Setiap orang mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang perlu dipenuhi, jika tidak maka akan terjadi goncangan. Pada prinsipnya manusia ingin memenuhi kebutuhan dengan cara yang dia pilih. Apabila kebutuhan itu tidak dipenuhi maka individu (remaja) akan mengalamisuatu problema. Kemungkinan remaja akan mengalami kecemasan, frustasi sampai depresi atau perilaku yang dapat merugikan diri sendiri ataupun orang lain (25).
Kecemasan pada remaja berhubungan dengan perubahan emosional yang terjadi setiap saat. Remaja yang tidak dapat beradaptasi terhadap kecemasan positif maka kehidupan sosialnya akan terganggu. Kecemasan pada remaja ada beberapa tipe, yaitu kecemasan akan perpisahan, kecemasan sosial, kecemasan umum, dan stres pasca traumatik (23).
Kecemasan akan perpisahan yaitu remaja berpikiran bahwa sesuatu hal atau peristiwa yang tidak baik akan menimpa pada kedua orang tuanya atau kerabat dekatnya, seperti perceraian orang tua, dan kehilangan orang terdekat. Kecemasan sosial yaitu remaja merasa malu dan ragu-ragu dalam berhubungan dengan orang lain. Remaja berusaha untuk menghindari keramaian, pesta, menjawab telepon dan takut membeli sesuatu yang ada di toko besar atau ramai. Mereka sering mengalami kesukaran dalam berinteraksi dengan orang lain (23).
Kecemasan umum yaitu remaja mengalami cemas yang berlebihan. Remaja cemas akan stres tu yang berhubungan dengan pekerjaan atau tugas sekolah. Mereka sering berulangkali menanyakan untuk meyakinkan dirinya supaya hatinya tentram. Stres paska traumatik yaitu remaja mengalami trauma akibat dari pengalaman atau pernah menimpa pada dirinya dan biasanya ditandai dengan mimpi buruk dan ketakutan (23).
2.      Rokok
a.      Pengertian Rokok
Rokok adalah hasil olahan tembakau termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan (17).
b.      Kandungan Rokok
Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan. Dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik (1).
Beberapa zat yang terdapat dalam asap rokok antara lain :
1)      Nikotin
Nikotin adalah zat atau bahan senyawa pirolidin yang terdapat dalam Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya yang bersifat adiktif (dapat mengakibatkan ketagihan). Nikotin mempunyai rumus C­­10H14N2 (18).
Nikotin yang masuk akan diterima oleh reseptorasetil kolinnikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan nikmat, memicu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasakan lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sementaranya di jalur andrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan serotonin. Meningkatnya serotonin menimbulkan rasa senang sekaligus keinginan merokok lagi (1).
2)      Tar
Tar adalah kumpulan dari ribuan bahan kimia dalam komponen padat asap rokok setelah dikurangi nikotin dan air (17). Tar merupakan senyawa polinuklir hidrokarbon aromatika yang bersifat karsinogenik (1).

3)      Racun-racun berbahaya
Sebatang rokok mengandung kurang lebih delapan belas racun, diantaranya gas karbon monoksida (CO, nitrogen oksida, amonia, benzene, metanol, perilen, hidrogen sianida, akrolein, asetilen, benzaldehid, arsenikum, benzopiren, uretan, koumarin, ortokresol, dan lain-lain (19).
Selain zat-zat yang berasal dari tembakau dan asap tembakau, ada sekitar 600 zat aditif yang ditambahkan ke dalam rokok. Zat aditif yang ditambahkan dalam rokok antara lain ekstrak kopi, coklat, mentol, gula, vanila, dan perasa. Bahan tambahan itu menambah rasa tetapi juga memiliki efek yang buruk. Coklat misalnya, ketika terbakar akan menghasilkan gas bromid yang melebarkan jalan udara di paru-paru dan mengakibatkan meningkatnya daya serap nikotin (19).
c.       Bahaya Rokok
Rokok merugikan kesehatan tidak hanya bagi orang yang merokok tetapi juga bagi orang yang menghirup asap rokok (19). Dalam asap rokok terdapat zat-zat berbahaya yang dapat berakibat buruk pada kesehatan (1). Rokok dapat memberikan dampak pada paru-paru, jantung, pembuluh darah, pada kehamilan, impotensi dan terjadinya kanker (18).

3.      Perilaku Merokok
a.      Pola perilaku merokok
Perilaku merokok dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu perokok (smoker) dan bukan perokok (non_smoker) (20).
1)      Perokok (smoker) adalah seseorang yang merokok produk tembakau baik setiap setiap hari maupun tidak setiap hari. Perokok dapat dibagi lagi menjadi dua kategori :
a)      Daily Smoker (perokok harian), adalah seseorang yang merokok produk tembakau minimal satu batang setiap hari. Perokok yang merokok setiap hari namun tidak merokok pada saat-saat tertentu misalnya pada waktu puasa (ritual keagamaan) masih di klasifikasikan sebagai perokok harian.
b)      Occasionally Smoker (perokok kadang-kadang), adalaha seseorang yang merokok namun tidak setiap hari. Occasionally Smoker meliputi :
(1)   Reducers (perokok yang mengurangi jumlah rokok), yaitu perokok yang pernah merokok setiap hari namun sekarang tidak merokok setiap hari.
(2)   Continuing occasional, yaitu perokok yang tidak pernah merokok setiap hari dan telah merokok 100 batang atau lebih rokok (atau tembakau dalam jumlah setara), dan sekarang kadang-kadang merokok.
(3)   Eksperimenters, yaitu perokok yang telah merokok kurang dari 100 batang rokok (atau tembakau dalam jumlah setara), dan sekarang kadang-kadang merokok.
2)      Bukan perokok (non-smoker) adalah seseorang pada saat penelitian dilakukan, tidak merokok sama sekali. Bukan perokok dapat dibagi menjadi 3 kategori :
a)      Ex-smoker (mantan perokok), adalah seseorang yang tidak pernah merokok sama sekali.
b)      Never smoker (tidak pernah merokok), adalah seseorang yang tidak pernah merokok sama sekali atau pernah merokok dan kurang dari 100 batang rokok (atau tembakau dalam jumlah yang setara) namun sekarang tidak merokok.
c)      Ex-occasional smoker (mantan perokok kadang-kadang), adalah seseorang yang dahulu perokok kadang-kadang dan telah merokok 100 batang rokok atau lebih namun sekarang tidak merokok.
b.      Tipe-tipe Perokok
Perilaku merokok yang terjadi pada seseorang dapat dibedakan menjadi perokok ringan, prokok sedang, perokok berat dan perokok sangat berat. Perokok ringan menghabiskan 10 batang rokok setiap hari. Perokok sedang menghabiskan rokok 11-20 batang sehari. Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang perhari. Sedangkan perokok sangat berat mengkonsumsi lebih dari 30 batang perhari (1).
Perilaku merokok ada 4 tipe berdasarkan Management of affect theory. Keempat tipe tersebut adalah (1) :
1)      Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Dengan merokok seseorang merasakan penambahan rasa yang positif. Tipe perokok ini dibagi lagi menjadi 3 sub tipe yaitu :
a)      Pleasure relaxation, perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah di dapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.
b)      Stimulation to pick them up. Perilaku merokokhanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.
c)      Pleasure of hanling the cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dengan memegang rokok. Sangat spesifik pada perokok pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa dengan tembakau, sedangkan untuk menghisapnya hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja. Atau perokok lebih senang berlama-lama untuk memainkan rokoknya dengan jari-jarinya lama sebelum ia menyalakan dengan api.
2)      Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif. Banyak orang yang menggunakan rokok untuk mengurangi perasaan negatif, misalnya bila ia marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.
3)      Perilaku merokok adiktif. Perilaku ini dapat disebut sebagai Phychological Addiction. mereka yang sudah adiksi, akan menambah ndosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisap berkurang. Mereka umumnya akan pergi keluar rumah membeli rokok, walau tengah malam sekalipun, karena ia khawatir kalau rokok tidak tersedia setiap saat ia menginginkannya.
4)      Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetepi karena benar-benar sudah menjadi kebiasaan rutin. Dapat dikatakan pada orang-orang tipe ini merokok sudah merupakan suatu perilaku yang bersifat otomatis seringkali tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan api rokoknya jika rokok yang terdahulu telah benar-benar habis.




c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi remaja merokok
Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi remaja merokok yaitu (1) :
1)      Pengaruh orangtua
Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak mudayang berasal dari rumahtangga yang tidak bahagia dimana orangtua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih lebih mudah untuk menjadi perokok dibandingkan anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia. Remaja yang berasal dari keluarga yang konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok atau tembakau atau obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan pada falsafah “kerjakan urusanmu sendiri-sendiri”, dan yang palingkuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu sebagai perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya.

2)      Pengaruh teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok.
3)      Faktor kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisk atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada penggunaan obat-obatan (termasuk rokok) ialah komformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah.
4)      Pengaruh Iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.
4.      Remaja
a.      Pengertian remaja
Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak sampai masa dewasa, berlangsung antara usia 10-19 tahun. Masa remaja terdiri dari masa remaja awal (10-14 tahun). Masa remaja pertengahan (15-16 tahun) dan masa remaja akhir (17-19 tahun). Pada masa remaja banyak terjadi perubahan baik biologis, psikologis maupunsosial dan umumnya proses pematangan fisik terjadi lebih cepat dari pada proses pematangan kejiwaan (psikososial) (21).
Masa remaja awal (10-14 tahun) merupakan masa pertumbuhan yang cepat dan perkembangan karakteristik sex sekunder. Oleh karena itu dengan perubahan fisk yang cepat, maka kesan tubuhm konsep pribadi dan harga diri remaja akan berfluktuasi secara dramatis. Masa remaja menengah (15-16 tahun) merupakan masa untuk mulai menyesuaikan diri dan merasa lebih nyaman dengan perubahan fisik yang mereka alami. Emosi yang kuat dan perubahan suasana hati yang cepat adalah khas. Sedangkan pada remaja akhir (17-19 tahun), mereka mulai kurang mementingkan diri sendiri dan mulai lebih mementingkan orang lain (21,24).
b.      Ciri-ciri masa remaja
Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang kehidupan, masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelum dan sesudahnya (21).
1)      Masa remaja sebagai periode penting
Periode yang terpenting karena akibat perubahan fisik dan psikologis. Pada periode remaja kedua-duanya sama-sama penting. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepatterutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlu dan meragukanya membentuk sikap, nilai dan minat baru.


2)      Masa remaja sebagai periode peralihan
Peralihan bagi remaja adalah apa yang terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekas pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang. Struktur psikis pada remaja berasal dari masa kanak-kanak, dan banyak ciri yang umumnya dianggap sebagai ciri khas masa remaja sudah ada pada akhir masa kanak-kanak. Namun, status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan karena memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.
3)      Masa remaja sebagai periode perubahan
Ada empat perubahan yang hampir bersifat universal. Pertama, meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tungkat perubahan fisik dan psikologis oleh kelompok sosial untuk dipesankan dapat menimbulkan masalah baru. Ketiga, dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah, keempat, sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan kebebasab dan menuntut mendapatkannya, tetepi mereka ketakutan untuk bertanggung jawab dan meragukan kemampuan untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut.
4)      Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Menurut Erikson, identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat (21). Dalam usaha pencarian indentitas diri ini mempengaruhi perilaku remaja. Salah satu bentuknya dengan meniru perilaku orang dewasa yang merokok di sekitarnya. Hal ini menjadikan mereka merasa sudah menjadi orang dewasa yang tanggung dan matang. Konsumsi rokok juga dipengaruhi oleh kebutuhan remaja memperoleh suatu status dan dapat mengisyaratkan perasaan seseorang tentang dirinya dan mengenai siapa dirinya (22).
c.       Perubahan sosial remaja
Salah satu tugas perkembangan remaja yang tersulit adalah hal yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Untuk mencapai tujuan dari proses dari proses sosialisasi, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru.
Pada perkembangan sosial, masa remaja ditandai dengan berkembangnya sikap tergantung terhadap orangtua kearah kemandirian, keinginan untuk bebas dan tidak mau terikat oleh norma-norma keluarga. Remaja mulai memisahkan diri dari orangtua dan menuju kearah teman sebaya. Agar dapat diterima dalam suatu kelompok, remaja harus mengikuti kebiasaan kelompok yang akan dimasukinya. Bila dalam kelompok tersebut penggunaan obat-obatan terlarang, minuman keras dan merokok merupakan suatu kebiasaan, ia juga akan ikut menggunakan obat-obatan terlarang, minuman keras dan rokok untuk mempermudah interaksi sosial (vehicle of social interaction) (22).


METODOLOGI PENELITIAN

A.    Hipotesis Penelitian
Ada hubungan yang bbermakna antara tingkat kecemasan dengan perilaku merokok pada pelajar putra SMK Wiworotomo Purwokerto.
B.     Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif non eksperimen dengan rancangan studi korelasi yaitu penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel dengan variabel lain pada suatu subjek. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan pendekatan cros-sectional yaitu metode penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran data variabel dependen dan variabel independen hanya satu kali dan pada suatu waktu (26).
C.     Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi merupakan seluruh subjek dengan karakteristik tertentu akan di teliti (27). Populasi dalam penelitian ini adalah ssemua remaja putra yang sedang melaksanakan studi atau sekolah tingkat SMK Wiworotomo Purwokerto.
2.      Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan metode pengambilan sampel tertentu untuk dapat memenuhi atau mewakili populasi (27). Untuk pengambilan sampel penelitian, tidak semua anggota populasi di jadikan sampel. Hal ini terdapat kriteria inklusi dan ekslusi, dimana kriteria tersebut menentukan dapat tidaknya anggota populasi digunakan sebagai sampel (27).
a.       Kriteria inklusi
1)      Siswa putra SMK Wiworotomo Purwokerto
2)      Siswa putra yang merokok
3)      Siswa yang bersedia menjadi responden
b.      Kriteria ekslusif
Kriteria ekslusif merupakan kriteria di mana subjek penelitian tidak ada yang mewakili karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian (26). Kriteria ekslusif dalam penelitian ini adalah semua yang tercantum dalam kriteria inklusi.
D.    Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilaksanakan di SMK Wiworotomo Purwokerto.
E.     Variabel Penelitian
1.      Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat variabel-variabel yaitu :
a.       Variabel bebas (independent variabel)
Variabel bebas adalah variabel yang akan menentukan atau mempengaruhi variabel terikat (dependent variabel) (29) . Variabel bebas pada penelitian ini yaitu tingkat kecemasan.
b.      Variabel terikat (dependent variabel)
Variabel terikat adalah variabel yang kondisimya atau nilainya ditentukan atau dipengaruhi oleh variabel bebas atau variabel lainnya (29). Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu perilaku merokok.
c.       Variabel Perancu
Variabel perancu adalah variabel yang berhubbungan dengan variabel bebas dan berhubungan dengan variabel terikat, tetapi bukan variabel antara (29). Variabel perancu pada penelitian ini yaitu orang tua perokok, teman perokok, faktor kepribadian, dan iklan rokok.


















DAFTAR PUSTAKA

1.      Mu’tadi, Z. Remaja dan Rokok. http://www.epsikologi.com/remaja/050602.htm.
2.      ­­_____.  Kuis Kampanyekanm “Ngerokok, ngapain juga!”. http://www.gatra.com/2003/03/17/versi_cetak.php?id2616.htm.
3.      Anna, MS. Perilaku Merokok (Analisa Data Susenas 2001). http://www.promosikesehatan.com/perilakumerokok.
4.      ­­­_____. Hari Sedunia Tanpa Rokok. http://kuncung.com/korankecil/hari_bebas tembakau sedunia.
5.      Efendi, M. Kebiasaan Merokok di Kalangan Siswa (Studi Kasus Tiga SMK di Kota Malang). Jurnal Ilmu Pendidikan, tahun 30, 2, Juli 2003, hal. 136-144. http://www.google.com/cognitive behavior therapy/htm.
6.      _____. Generasi Abad ke-21 Terjebak Mitos Rokok. http://www.suaramerdeka.com/harian/0112/101ragam2.htm.
7.      Evendi, L.F.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok pada Pelajar Putra SMK di Kota Wonogiri. Skripsi tidak diterbitkan. Semarang : Program Studi Ilmu Keperawatan UNDIP, 2004.
8.      Tisna Chandra. Perilaku Bermasalah Remaja Muncul Lebih Dini. Januari 2007. http://duniaguru.com/cemas/htm.
9.      Dian K, Avin F. Faktor-faktor Penyebab Perilaku Merokok pada Remaja. SKRIPSI UGM dan UII Yogyakarta. http://google.com/perilakumerokok/pdf
10.  ­­­_____.  Smoking ”Increasess Anxiety Risk”. November 2000. http://www.google.com/anxiety_and­_smoking/htm.
11.  Collen M. Mc.Bridge, Jamie S. Ostroff. Teachable Moment for Promoting Smoking Cessation:The Context of Cancer Care and Survivorship. 2003. www.medscape.com/anxiety_ands_smoking/htm.
12.  Gail Wiscart Stuart & Sandra J. Sundeen, keperawatan jiwa edisi 3. Alih bahasa Achir Yani S Hamid. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1998.
13.  Hawari, D. Hamayemen. Stres, Cemas dan Depresi.  Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2001.
14.  Yatman, D.  Psikolgi Perkembangan,  Semarang : Balai Penerbit Universitas Diponegoro. 2001.
15.  Stuart GW, Sundeen SJ. Principle ang Practice of Pschiatric Nursing. St. Louis Missouri. Mosby Year Book Inc.1995.
16.  Maramis, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa.  Surabaya : Airlangga University Press. 1998.
17.  _____. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. http://www.dprin.go.id/regulasi/2003/03/pp_19_03.htm.
18.  Tandra, H.  Merokok dan Kesehatan. http://www.antirokok.or,id/berita_rokok_kesehatan.htm.
19.  Bangun, A.P. Panduan Untuk Perokok : Solusi Tuntas Untuk Mengurangi Rokok dan Berhenti Merokok. Jakarta : Milenia Populer, 2003.
20.  Molarius, A. Kuulasmaa, K. Evan.A. Qualiti Assesment of Datas on Smoking Behaviour in the WHO. Monica Project. http://www.ktl.fi/publications/monica/smoking/qa30.htm.
21.  Hurlock, E. B. Psikologi Perkembangan : Suatau Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (Ed.5). Jakarta: Erlangga. 1997.
22.  Hawari, D. Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 1991.
23.  _____, General Information about Child and Adolescent Anxiety. http://www.gogle.com/anxiety_in_adolesence/htm.
24.  Merenstein, Gerald B.  Buku Pegangan Pediatri. Jakarta; Widya Medika. 2001.
25.  Narenda, Moersintowarti.  Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Ed 1. Jakarta: Sagung Seto.2002.
26.  Sukidjo Notoatmojo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Ed. Revisi. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003.
27.  Aziz Alimul H, Riset & Teknik Penulisan Ilmiah.  Jakarta : Salemba Medika. 2003.
28.  Nursalam. Konsep dan Prinsip Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika 2000.